tribratanews.ntb.polri.go.id. – Beredar sebuah video di media sosial yang diklaim memperlihatkan aksi warga membakar dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Berdasarkan hasil verifikasi kepolisian, klaim tersebut tidak terbukti atau HOAKS.
Video tersebut beredar sekitar hari Minggu (13/9) siang di sejumlah platform media sosial. Postingan video tersebut disertai klaim narasi mengenai dugaan aksi warga yang kecewa terhadap pelayanan dapur SPPG pasca insiden keracunan siswa sekolah. Namun, dalam video tidak terdapat informasi spesifik yang memastikan lokasi persis kejadian tersebut.
Menindaklanjuti informasi tersebut, Polda NTB bersama jajaran melakukan pemeriksaan dan verifikasi di sejumlah wilayah untuk memastikan kebenaran informasi serta lokasi peristiwa yang ditampilkan dalam video.
Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol. Muhammad Kholid, S.H., S.I.K., M.H., menegaskan hasil pengecekan tidak menemukan adanya peristiwa pembakaran dapur SPPG sebagaimana yang diklaim dalam video tersebut.
“Setelah dilakukan pemeriksaan dan verifikasi di sejumlah wilayah, tidak ditemukan adanya peristiwa sebagaimana yang dinarasikan dalam video tersebut,” ujar Kombes Pol. Muhammad Kholid dikonfirmasi, Senin (14/9).
Klaim tersebut kemudian berkembang di media sosial dan sebagian pengguna mengaitkannya dengan wilayah Lombok Tengah. Persepsi itu muncul setelah sebelumnya terjadi insiden dugaan keracunan makanan di wilayah Batukliang, Lombok Tengah.
Sejumlah komentar kemudian menghubungkan video pembakaran dapur SPPG tersebut dengan insiden yang terjadi sebelumnya di Batukliang. Namun, hasil verifikasi jajaran Polsek Batukliang dan Polresta Lombok Tengah di lapangan juga tidak menemukan adanya peristiwa pembakaran dapur SPPG sebagaimana yang diklaim.
“Untuk informasi yang kemudian dipersepsikan terjadi di Lombok Tengah, jajaran Polsek dan Polres sudah melakukan verifikasi di lapangan. Hasilnya, tidak ditemukan peristiwa seperti yang disebutkan dalam video tersebut,” tegas Kholid.
Polda NTB mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menganggap sebuah video sebagai fakta hanya karena disertai narasi atau komentar tertentu. Perbedaan antara lokasi, waktu dan konteks kejadian perlu dipastikan terlebih dahulu sebelum informasi disebarluaskan.
Kepolisian mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial dengan melakukan pengecekan terhadap sumber dan kebenaran informasi, terutama terhadap konten yang berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
“Kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga ruang informasi tetap sehat. Pastikan informasi yang diterima benar sebelum dibagikan kembali,” pungkasnya.