Kapolri Ingatkan Masyarakat NTB untuk Tidak Percaya Berita Hoax

19 miliar diserahakn Kapolri untuk NTB

Mataram – Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian dalam kunjungan kerjanya bersama Panglima TNI Marsekal, Hadi Tjahjanto di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam rangka melihat langsung progres penanganan Penanggulangan Darurat Bencana Gempa, Jumat (24/8/2018) pagi, mengharapkan kepada masyarakat di daerah Nusa Tenggara Barat, agar tidak mempercayai berita–berita bohong atau hoax yang muncul dimedia sosial.

Hal ini di tegaskan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menyusul adanya informasi di media sosial yang memberitakan akan terjadinya gempa susulan dengan skala yang lebih besar lagi pada Minggu, 26 Agustus 2018.

“Saya harapkan jangan percaya sama berita hoax, berita yang tidak jelas jangan mudah percaya. Ikuti berita–berita yang resmi yang disampaikan BMKG,” ujar Kapolri.

Selain itu ada juga sumber–sumber lain yang bisa dipercaya dan dapat diakses melalui saluran resmi, seperti dari pemerintah daerah dan Satgas maupun dari Polda NTB dan jajaran.

“Jadi jangan mudah percaya isu–isu yang tidak jelas,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda NTB, Komisaris Besar (Pol) Syamsuddin Baharuddin menegaskan saat ini Tim Cyber Crime Polda NTB bersama Tim Cyber Crime Mabes Polri sedang menelusuri situs–situs penyebar berita bohong yang membuat kepanikan warga masyarakat pasca terjadinya gempa susulan di Lombok.

Jika nanti yang membuat dan menyebarkan berita bohong ditangkap, maka sanksinya cukup berat. Pelaku dapat diancam dengan pasal 28 ayat 1 Undang–undang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan ancaman 6 tahun penjara dan denda maksimal Rp1 miliar.

“Kepolisian akan menindak tegas siapa pun yang membuat dan menyebarkan informasi bohong (hoax). Pelaku diancam dengan Pasal 28 ayat 1 Undang–undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE),” ujar Syamsuddin Baharuddin.

Komisaris Besar (Pol) Syamsuddin Baharuddin meminta masyarakat bisa mencerna setiap informasi yang belum tentu kebenarannya.

Maraknya berita hoax yang tersebar secara berantai melalui short message service (SMS), Blackberry Messanger (BBM), e–mail, serta jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook membuat resah masyarakat. Apalagi isu mengenai akan terjadinya gempa susulan pada Minggu, 26 Agustus 2018, semakin membuat kepanikan warga masyarakat.

“Saya Tegaskan, sampai saat ini tidak ada satupun negara pun di dunia ini yang mampu memprediksi akan terjadinya gempa. Di mana pun dan kapan pun tidak bisa diprediksi. Kejadian gempa itu merupakan rahasia Allah SWT,” tegasnya.

Karena itu, Syamsuddin Baharuddin mengimbau masyarakat yang mengetahui penyebaran berita hoax, segera melaporkan kepada polisi, karena perbuatan itu sudah masuk dalam delik hukum.

Setelah laporan diproses oleh kepolisian, langkah selanjutnya dilakukan penyidikan. Polisi bakal bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama serta operator telekomunikasi untuk menjerat pelaku penyebar berita bohong.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close