Kasus Kekerasan pada Anak di Lotim Mengkhawatirkan

Kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) mengkhawatirkan. Pasalnya, di awal tahun 2018 ini, sekitar enam anak di bawah umur menjadi korban kekerasan seksual yang beberapa di antaranya dilakukan oleh orang-orang terdekat korban Seperti kasus kekerasan seksual yang dialami SS (11 tahun), pelajar kelas 5 SD asal Dusun Padak Guar Desa Padak Guar Kecamatan Sambelia. Ia menjadi korban kekerasan seksual oleh tetangganya sendiri yakni Marti alias Amaq Solihan (50). Perlakuan bejat yang dialami oleh korban kurang lebih sekitar sembilan kali dengan bujuk rayu memberikan uang.

Mudahnya korban dirayu untuk memenuhi nafsu bejat pelaku, kata Kanit PPA Satreskrim Polres Lotim, Bripka. Hermanto, Senin, 2 April 2018, dikarenakan korban merupakan orang yang tergolong tidak mampu dan seorang yatim piatu. Untuk sekolah saja, korban yang tinggal bersama bibinya kerap tidak masuk dikarenakan tidak ada pakaian adat yang digunakannya. Apalagi di Kabupaten Lotim murid SD setiap hari Sabtu diimbau menggunakan pakaian adat.

Terkait kasus ini, katanya, korban yang masih duduk di bangku kelas 5 SD itu sudah diatensi oleh pemerintah daerah agar mendapatkan perhatian serius berupa seragam sekolah, alat tulis dan kebutuhan hidup lainnya. Sementara, pelaku saat ini sudah ditangkap aparat kepolisian untuk diproses lebih lanjut.

Kasus kekerasan terhadap anak juga terjadi di wilayah Kecamatan Pringgabaya, korban berinisial AL (16 tahun) alamat saat ini masih duduk dibangku kelas 3 SMP di Sambelia. Pelaku atas nama Engtari (26) Gubuk Daya Kelurahan Kelayu Utara Kecamatan Selong. Antara korban dan pelaku kenal melalui hp kemudian menjalin hubungan asmara. Korban yang saat itu terlanjur sayang terhadap pelaku kemudi terpengaruh bujuk rayu pelaku, sehingga korban rela disetubuhi oleh pelaku.

Dari pengakuan korban, ia disetubuhi pelaku sebanyak satu kali di salah satu hotel di Labuhan Lombok Kecamatan Pringgabaya. Kejadian tersebut pada 22 Maret 2018, kasus tersebut diketahui berawal dari korban yang tidak pulang-pulang ke rumahnya selama tiga hari. Sehingga pihak keluarga korban sempat mempertanyakan ke pelaku. Namun pelaku memberikan alasan bohong. Kemudian korban dititipkan oleh pelaku di salah satu temannya kemudian setelah dipulangkan, korban menceritakan perlakukan yang dialaminya

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close