Penerima Paket Sepatu Berisi Ganja 20 Kg Disergap BNNP NTB

Mataram – Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi NTB berhasil menyergap penerima paket sepatu berisi daun ganja kering seberat 20 kg yang akan didistribusikan di wilayah Lombok. Paket tersebut dikirim dari Sumatera Utara dengan alamat penerima inisial HW (40) warga Kampung Perbawa Kelurahan Tiwu Galih Kecamatan Praya Kabupaten Lombok Tengah.

Kepala Bidang Pemberantasan BNNP NTB, AKBP Denny Priyadi, S.Sos. menyampaikan, BNNP berhasil mengamankan daun ganja itu berdasarkan informasi dari masyarakat bahwa pada hari Kamis (1/3), akan ada pengiriman daun ganja dari Sumatera Utara melalui salah satu ekspedisi di Mataram.

“Informasi itu kami jadikan bahan, sehingga pada Kamis malam dilakukan penindakan tersangka penerima barang diduga ganja. Setelah diperiksa, karena modusnya sepatu, ternyata isinya ganja,” ungkapnya AKBP Denny saat konferensi pers, Sabtu (3/3).

Denny menjelaskan, sebelum dilakukan penindakan, BNNP melakukan koordinasi dengan ekspedisi dan melakukan pengintaian. Saat itu, ada seseorang yang akan menjemput paket sebanyak dua karung itu. Begitu orang tersebut tiba untuk mengambil paket yang diduga daun ganja kering itu, BNNP langsung melakukan penyergapan.

“Hasil pengembangan, bersangkutan sudah tiga kali melakukan ini dengan modus yang sama,” kata dia.

Lebih jauh dikatakan, saat ini BNNP sedang melakukan pendalaman dan pengejaran terhadap pemilik barang yang ada di Sumatera Utara. BNNP NTB telah berkoordinasi dengan BNNP Sumatera Utara berdasarkan pengakuan HW yang berhasil ditangkap.

Untuk diketahui, lanjut Denny, perkiraan harga barang haram itu perkilo yakni 8 juta. Berarti jika dikalikan 20 kg berjumlah Rp 160 juta.

Terkait kasus ini, HW akan dijerat dengan Pasal 114 ayat (2) atau Pasal 111 ayat (2) atau Pasal 127 ayat (1) huruf a UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan hukuman minimal 12 tahun penjara dan maksimal hukuman mati.

“Tersangka ini pengguna dan pengedar. Dia juga memiliki dua alamat, pertama Perbawa Lombok Tengah dan Masbagik Lombok Timur, baru dua minggu pindah alamat,” tuturnya.

Disinggung tentang jasa ekspedisi pengiriman, karena modus tersebut terjadi berulang kali. Denny menegaskan akan dalami. “Kami tetap koordinasi dengan pihak ekspedisi,” ujar dia.

Denny menambahkan, awal tahun 2018, ini merupakan pengungkapan kasus pertama. Kalaupun pengiriman ganja sudah tiga kali berjalan, namun BNNP baru pertama kali ini menemukan.

Sementara HW mengakui bahwa pengiriman ini sudah tiga kali dilakukan sejak Desember 2017. Namun, baru kali ini tertangkap.

Disinggung kemana didistribusikan, HW mengaku bahwa pendistribuasiannya di wilayah Lombok dan tergantung pesanan. Sedangkan terkait siapa-siapa saja yang memesan, HW lebih memilih diam.

“Saya makan dan jual mas,” jawabnya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close