Polda NTB Ungkap Jaringan Pengedar Tramadol

24 Januari, 2017
210 Views

tramadol

tribratanewsntb.com Mataram – Polisi mengungkap sindikat peredaran Tramadol jaringan NTB. Obat daftar G itu diduga diproduksi secara gelap di Jakarta. Wilayah peredarannya tak hanya di Mataram, namun juga merambah Bima dan Dompu.

“Mereka menyuplai daerah kita. Tidak hanya di Bima dan Dompu, di Lombok juga ada,” ungkap Dirresnarkoba Polda NTB, Kombes Pol H Agus Sarjito Selasa (1/11) didampingi Kabid Humas, AKBP Tri Budi Pangastuti, dan Kasubdit III, AKBP Anak Agung Gede Agung.

Simpulan awal itu diambil dari fakta Tramadol yang beredar di NTB adalah produksi PT Promedraharjo Farmasi Industri. Izin edar obat dengan ciri fisik berbungkus warna silver dengan strip hijau sudah dicabut Januari 2015 silam.

“Kita cek ke tempat pabrik produksinya. Sudah tidak keluarkan produk ini. Yang aslinya juga sudah ditarik dari pasaran,” ungkapnya. “Tapi ternyata ada beredar di NTB.”

Penelusuran pun dilanjutkan sampai ke wilayah Cakung, Jakarta Timur menggandeng Polda Metro Jaya. Hasilnya didapati obat itu diproduksi illegal. “Infonya ada beroperasi di sana,” ungkap Agus.

Kasus Tramadol itu, sambung dia, diungkap Sabtu (22/10) lalu dengan TKP di Kecamatan Mpunda, Kota Bima. Tersangka pemasok barang nisial IR alias IA (38) dicokok di kediamannya di BTN Pepabri, Monggonao, Kota Bima.

Barang bukti 5.000 strip setara 50.00 butir Tramadol palsu diamankan. Ada pula pil Trihexyphenidyl dan Dextro serta satu unit mobil CRV bernopol area Jakarta.

Dari pengakuan tersangka, kata Agus, Tramadol itu diperoleh dari Jakarta. Dikirim via bus yang melayani jasa paket Jakarta-Bima. Tersangka baru kali ini tertangkap dan sudah berulang kali memasok barang selama 2016 ini.

Satu strip Tramadol palsu dihargai Rp 25 ribu oleh tersangka. Sementara di apotek harga berkisar antara Rp 3 ribu sampai Rp 10 ribu.Sasarannya mengkhawatrikan generasi NTB, yakni para remaja dan pelajar.

“SMP, SMA pengangguran yang pengen coba-coba,” bebernya. Dari hasil jual obat palsu itu, tersangka diperkirakan meraup untung Rp 30 sampai 40 juta dari merusak generasi masa depan.

Tersangka dikenai pasal 106 ayat (1) juncto pasal 197 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman penjara maksimal 15 tahun dan denda paling banyak Rp 1,5 miliar.

Agus mengungkapkan, pengungkapan tersangka IR itu merupakan pengembangan dari kasus serupa dengan TKP Gomong, Mataram yang menjerat tersangka MS (31).

“Ternyata ada yang lebih di atasnya lagi. Ya tersangka IR ini. dari kasus tersangka MS itu nanti menjadi yurisprudensi penanganan TKP Bima ini,” pungkasnya. (azi)

You may be interested

Penyuluhan Tentang Bahaya Lahgun Narkoba
Reskrim
shares1 views
Reskrim
shares1 views

Penyuluhan Tentang Bahaya Lahgun Narkoba

DIT NARKOBA - Okt 20, 2017

Mataram _ Bamin Opsnal Dit Res Narkoba Polda NTB melaksanakan giat rutin untuk memberikan binluh tentang bahaya penyalahgunaan narkoba kepada…

2 Pemuda Pelaku Curas Digelandang Ke Mapolres Lotim
Binkam
shares6 views
Binkam
shares6 views

2 Pemuda Pelaku Curas Digelandang Ke Mapolres Lotim

Polres Lotim - Okt 20, 2017

[caption id="attachment_41563" align="alignleft" width="380"] TIM OPSNAL POLRES LOTIM SAAT MELAKUKAN UPAYA PENANGKAPAN[/caption] Selong - Aparat dari Kepolisian Resor Lombok Timur…

Atasi Konflik, Kapolres Bima Gelar Mediasi
Binkam
shares6 views
Binkam
shares6 views

Atasi Konflik, Kapolres Bima Gelar Mediasi

Polres Bima Kabupaten - Okt 19, 2017

[caption id="attachment_41559" align="aligncenter" width="300"] Kapolres Berserta Danramil, Sekcam, dan Seluruh Kades Kec. Woha[/caption] Panda - Kamis (19/10) Telah terjadi konflik yang…

Leave a Comment

Your email address will not be published.