PERAN FORENSIK ANTROPOLOGI DALAM OPERASI-OPERASI DVI DI INDONESIA

tribrata news ntb by m@sbh@y

 

http://momosergeidragunov.blogspot.co.id/2015/01/dvi-polri-bukan-satuan-elit-polri.html

60511_159257890757058_3614067_npusdokkes-logo-smalls

PERAN FORENSIK ANTROPOLOGI DALAM OPERASI-OPERASI DVI DI INDONESIA

PERAN FORENSIK ANTROPOLOGI DALAM

                                                                      OPERASI-OPERASI DVI DI INDONESIA

Oleh:

Dr Paula Lihawa, MForSc *Penulis adalah staf Biddokkes Polda Sulawesi Utara

 

  1. PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara kepulauan yang terbentang sepanjang garis khatulistiwa dan mecakup area seluas 1.904.569km2. Terletak pada pertemuan lempeng-lempeng tektonik Pasifik, Eurasia dan Australia dan termasuk dalam Cincin Pegunungan Berapi Eurasian (Eurasian Circum Pacific Ring of Fire), Indonesia mengoleksi kurang lebih 150 gunung berapi aktif. Dengan kondisi seperti ini, Indonesia sangatlah rentan terhadap berbagai bencana alam, seperti tsunami yang terjadi pada 24 Desember 2004 dengan daerah yang paling parah adalah Nangroe Aceh Darussalam serta gempa di Jogjakarta dan Jawa Tengah dengan kekuatan 6,2 skala Richter pada 27 Mei 2006.

Keadaan sosial dan politik dalam negeri Indonesia yang belum stabil ditambah dengan korupsi, pertumbuhan ekonomi yang tidak merata merupakan faktor-faktor yang menyebabkan banyak gejolak dalam masyarakat yang mengakibatkan masyarakat menjadi mudah dipengaruhi dengan paham-paham radikal, separatis serta kekerasan. Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar didunia, Indonesia telah beberapa kali mengalami aktifitas terorisme yang berkaitan dengan gerakan muslim radikal seperti teror bom Bali I dan II, bom Kedutaan Australia dan bom hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton.

Dengan kondisi dan keadaan seperti ini, tidaklah berlebihan jika Indonesia dapat dianggap sebagai hypermarket bencana karena semua jenis bencana, baik alam maupun buatan, dapat terjadi di Indonesia.

Dalam konteks penanganan dan penanggulangan bencana, Indonesia adalah salah satu negara didunia yang telah menerapkan standar dari Interpol tentang identifikasi korban bencana. Pemerintah Indonesia lewat National Committee of Disaster Victim Identification (Komite Nasional Identifikasi Korban Bencana) telah sukses menyelanggarakan operasi-operasi identifikasi korban bencana (Disaster Victim Identification/DVI) pada berbagai kejadian bencana baik bencana alam atau buatan manusia.

Tulisan ini akan menelaah peran forensik anthropologi dalam beberapa operasi DVI di Indonesia.

  1. FORENSIK ANTROPOLOGI, PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP

American Board of Forensic Anthropology (ABFA) mendefinisikan forensik antropologi sebagai: aplikasi dari ilmu antropologi fisik dan biologi yang berkaitan dengan proses hukum (legal). Lebih jauh lagi ABFA menetapkan bahwa para ahli fisik dan biologi antropologi yang berkecimpung dalam bidang forensik menjadikan kerangka manusia sebagai fokus dari penelitian mereka. Forensik antropologi juga didefinisikan sebagai area penelitian yang memfokuskan pada pemeriksaan material yang dipercaya sebagai manusia yang ditujukan untuk menjawab pertanyaan yang terkait dengan medico-legal termasuk yang berhubungan dengan proses identifikasi.

Secara tradisional, peran ahli forensik antropologi dibatasi pada mengembangkan dan menetapkan profil biologis dari kerangka manusia. Namun kini peran ahli forensik antropologi telah meluas seiring sering dilibatkannya ahli forensik antropologi dalam proses identifikasi korban bencana. Pada bencana semisal kecelakaan pesawat atau bencana bom, kebanyakan korban ditemukan dalam bentuk yang tercerai-berai disertai besarnya risiko percampuran antara bagian tubuh antar korban, peran ahli forensik antropologi sangat penting terutama untuk menetapkan profil biologis yang dapat menunjang proses identifikasi.

III.              PERAN FORENSIK ANTROPOLOGI DALAM BEBERAPA OPERASI DVI DI INDONESIA

Indonesia telah mengenal proses DVI sejak peristiwa tenggelamnya Kapal Tampomas II namun kasus Bom Bali I merupakan kasus pertama yang menerapkan standard Interpol. Satu operasi DVI selalu melibatkan banyak ahli-ahli forensik seperti patologi forensik, biologi molecular, odontologi forensik, sidik jari serta antropologi forensik dengan tujuan agar proses identifikasi dapat dilaksanakan dengan metode dan cara yang se ilmiah mungkin.

Pada skenario DVI, peran seorang ahli antropologi forensik adalah sebagai bagian dari tim medis pada fase TKP, ante-, post- dan rekonsiliasi dalam sebuah operasi DVI. Pengalaman yang dipunyai oleh seorang ahli antropologi forensik dapat sangat berguna dalam penilaian akan bagian tubuh manusia dengan kondisi yang terpisah-pisah serta hangus terbakar. Seorang ahli antropologi forensik dapat menentukan jumlah individu minimum, membedakan antara potongan tubuh dan/atau tulang yang berasal dari manusia atau bukan serta dapat menentukan profil biologis seperti umur, jenis kelamin dan etnis dari potongan tubuh manusia yang belum teridentifikasi. Dalam menghadapi hal-hal yang berhubungan dengan korban bencana, seperti pencarian, pemulihan, proses identifikasi, penanganan bencana serta keluarga korban, idealnya ditangani oleh ahli antropologi forensik karena mereka telah terlatih dalam menangani hal-hal seperti diatas.

Di Indonesia, peran dari ahli forensik antropologi pada operasi DVI tidak selalu dipahami dengan benar oleh pemerintah dan instansi-instansi penegak hukum lainnya. Dalam beberapa kasus pendapat dari ahli antropologi forensik tidak diperhitungkan sebab adanya anggapan bahwa ahli antropologi forensik hanya berhubungan dengan potongan tubuh atau kerangka manusia saja. Pada beberapa kasus seperti Bom Bali I dan II serta Bom Kedutaan Australia, tim DVI Indonesia mendapatkan bantuan dari ahli antropologi forensik dari Australia dalam menangani aspek antropologi forensik pada kasus-kasus tersebut.

Pada tanggal 7 Maret 2007, pesawat Boeing 737-400 milik Garuda Indonesia Airways meledak di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta dan memakan korban jiwa 21 orang dan 112 orang luka-luka. Pada operasi ini, tim DVI meminta bantuan dari seorang ahli antropologi forensik dalam proses identifikasi.

Lewat pemeriksaan tengkorak dan karakteristik geligi, ahli antropologi forensik berhasil menentukan profil biologis para korban menjadi 16 orang berasal dari etnis Asia dan 5 orang beretnis Kaukasia. Profil biologis juga berhasil dipertajam menjadi tiga pria dan dua wanita dengan etnis Kaukasia serta enam wanita dan sepuluh pria dengan etnis Asia. Pada fase rekonsiliasi, ahli antropologi forensik membandingkan data ante-mortem yang didapat dari catatan medis dan gigi yang disediakan oleh pemerintah Australia dengan data post-mortem yang mengarah kepada identifikasi positif dari kelima korban etnis Kaukasia adalah merupakan warga Negara Australia. Kasus ini merupakan penegasan akan sumbangsih antropologi forensik dalam identifikasi korban bencana.

Tahun 2003 Markas Besar Kepolisian RI dan Kementrian Kesehatan RI menandatangani nota kesepakatan untuk mendirikan Tim DVI Nasional namun dengan adanya situasi sosial politik dan ekonomi yang belum stabil berakibat kepada kurangnya pendanaan dan sumber daya manusia. Hal ini mengakibatkan seorang ahli antropologi forensik tidak selalu dapat mengunjungi tempat kejadian dimana ditemukan kerangka atau bagian tubuh manusia dan berujung kepada banyaknya kasus yang dikonsultasikan secara informal dan konfidensial kepada ahli antropologi forensik.

Sangat penting dalam membangun kerjasama antar akademisi, personil medis dan Polri dalam hal identifikasi korban bencana atau korban kejahatan. Berbagai usaha telah dilakukan seperti berbagai pelatihan dan seminar tentang DVI, sangat disayangkan semua itu berjalan tanpa sokongan jejaring dan infrastruktus serta dana dan administrasi yang memadai.

Sangatlah jelas masih banyak pekerjaan yang dibutuhkan sehubungan dengan faktor infrastruktur dan pendanaan di Indonesia. Dibutuhkan sokongan pendanaan darurat dari pemerintah Nasional dan regional, Polri dan Kementrian Kesehatan, dan jika mungkin, dari sumber-sumber yang lain untuk operasi-operasi DVI berikutnya.

Disisi lain, antropologi forensik merupakan ilmu yang berkembang pesat. Area dari antropologi forensik telah berkembang tidak hanya berurusan dengan kerangka tubuh manusia tapi identifikasi manusia hidup dengan menentukan usia biologis manusia. Dengan pertumbuhan dan penyebaran manusia semakin beragam serta seringnya Indonesia mengalami bencana baik alami maupun buatan manusia, adalah penting bagi Indonesia, ahli antropologi forensik khususnya, untuk membuat standard identifikasi usia biologis manusia untuk Indonesia.***

 

**Tulisan ini merupakan abstrak dari disertasi Magister penulis dengan judul yang sama.

 

  1. Tanggal 21 s.d 22 September 2016 akan dilaksanakan Pelatihan DVI TA 2016 di Polda Bali
  2. 7th IDVIMC for DVI Province Commander 2016 dilaksanakan mulai tanggal 22 Agustus s.d 2 September 2016 bertempat di JCLEC, Komp. Akpol, Semarang. Peserta terdiri dari Kabiddokkes, Karumkit Bhayangkara, Kasubbid Dokpol, Kasubbid Kespol, Kasubbid Yanmed Dokpol Rumkit dan personel yang diarahkan untuk menjadi pimpinan pelaksana Operasi DVI.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close