KASAT LANTAS POLRES LOTIM PRIHATIN DENGAN KONDISI JALUR KTL DI KAB. LOMBOK TIMUR

         

Kasat Lantas Polres Lotim pada saat konfirmasi oleh para wartawan
KASAT LANTAS POLRES LOTIM PADA SAAT DIKONFIRMASI OLEH PARA WARTAWAN

Selong tribratanewslotim.com –  Berbicara tentang KTL (kawasan tertib berlalulintas) maka secara tidak langsung kita membahas masalah Lalulintas, sementara lalulintas itu sendiri bukan saja tanggung jawab Polisi lalulintas melainkan tanggung jawab bersama, KTL adalah suatu kawasan yang dibangun, dibina dan dibentuk serta diawasi untuk menjadi suatu kawasan yang mencerminkan dan mengimplementasikan bagaimana lalu lintas yang baik dan benar. Kawasan ini sudah dibangun lengkap dengan fasilitas jalan yang layak untuk pengguna jalan, baik pengendara Roda 2, Roda 4, pejalan kaki maupun kendaraan prioritas.

Kawasan tertib lalu lintas terbentuk berkat kerjasama antara instansi yang berkompenten dan diberi amanah oleh Undang-undang untuk mengurus Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, terdiri dari Dinas PU, PT. Jasa Raharja, Dinas Perhubungan Darat dan Satuan Polisi Lalulintas. Masing – masing Instansi memiliki tugas dan kewajiban serta peranan dalam menjalankan amanah UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Kawasan tertib lalulintas dibangun dan dibentuk pada Ruas Jalan tertentu dalam suatu kawasan yang ditentukan oleh Pemerintah Daerah dengan Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Walikota atau Kepala Daerah, dengan maksud dan tujuan penetapan ini akan menjadi satu program Pemerintah Daerah yang mendapat alokasi dana dari APBD.

Kasat Lantas Polres Lombok Timur AKP BAYU WINOTO S.I.K, mengatakan Jalur KTL merupakan Etalase dan wahana ketertiban dalam berlalulintas yang harusnya menjadi contoh bagi ruas jalan lain, seperti KTL yang ada di Kab. Lotim ‘karena itu saya gas terus para pelanggar (tindak tegas,red) dalam rangka penertiban di jalur KTL kata Kasat Lantas (31/8 2016).

Kasat Lantas menambahkan, KTL yang ada di Kab. Lotim saat ini masi belum memadai / masih banyak kekurangan jika kita mengacu kepada UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, contoh yang pertama dari segi panjang jalan yang tak bertambah sejak dikeluarkannya Skep KTL pada tahun 2003 lalu, belum lagi ditambah dengan minimnya marka jalan dan kondisi jalan yang rusak parah “tengok saja di jalan M. yamin dan Ahmad dahlan” katanya memberikan contoh.

Kasat Lantas menambahkan; memang belum lama ini pembahasan masalah KTL dengan sejumlah pihak terkait pernah dilakukan sperti dengan marga PU, Dishub Kom Info, bahkan Bappeda Lotim turut hadir dalam dalam kesempatan itu imbuhnya, yang pertama dibahas ialah rencana adanya penambahan luas area KTL, menurut hasil pembahasannya kala itu,jalan baru rakam dan jalur belakang DPRD Lotim hingga perempatan PTC juga hendak dijadikan KTL. (yief)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close