Polda NTB Atensi Perlindungan Anak dari Bahaya Narkoba

Ilustrasi
Ilustrasi

tribratanewsntb.com Mataram – Polda NTB mengatensi kerawanan anak dijangkiti narkoba. Memaksimalkan kewenangannya melakukan penegakan hukum. Dalam menindak pun, tetap mengedepan azas yang diamanatkan Undang-undang perlindungan anak.

“Kita atensi sekali. Memerangi narkoba yang sudah menjangkiti semua lini,” tegas Kasubdit II Ditresnarkoba Polda NTB, AKBP I Komang Satra, kemarin di ruang kerjanya.

Menurutnya, masa tumbuh kembang anak, rentan dipengaruhi lingkungan. Apalagi jika pengawasan orang tua lemah. Seperti yang terungkap Jumat (22/7) kemarin, dua remaja di Gerung, Lobar tertangkap tangan tengah pesta sabu bersama kawan sepermainannya. Bahkan, sering dilakukan juga sebelumnya pada saat bulan puasa yang lalu. Mirisnya lagi, TH (17), siswa SMA, dan AS (16) yang putus sekolah setelah tamat SD itu dijadikan sebagai kurir oleh bandarnya. Mereka diupah Rp 20 ribu atau terkadang dihadiahi satu poket sabu. Dari sana petaka narkoba dua remaja itu dimulai.

“Memang orang tuanya tau mereka sering kumpul-kumpul. Tapi tidak tau kalau memakai narkoba. Dikiranya kumpul biasa, bermain,” kata Satra. Dari penangkapan itu, keduanya positif menyalahgunakan narkoba.“Dalam beberapa kasus memang pelaku utama memanfaatkan anak-anak untuk mengelabui anggota,” imbuh dia. Di saat tumbuh kembang anak usia remaja sedang porduktif, mereka justru mendekam di penjara.

“Ini kan berkaitan juga dengan masa depan mereka nanti. Orang tua dan lingkungan sekitar juga ambil bagian mengawasi,” imbuh dia. Dalam mengatensi kerawanan anak sebagai korban penyalahgunaan narkotika, pihaknya tidak pilih-pilih. Tidak terjebak pada stigma harus mengungkap kasus dengan barang bukti yang besar. Yang kecil pun, kata Satra, tetap berdampak. Apalagi yang terlibat adalah anak-anak. Penindakan hukum seperti pengungkapan kasus narkoba yang melibatkan anak disebut sebagai upaya melindungi anak itu sendiri. Hanya saja, penindakan itu tidak disamakan dengan ketika menangani kasus narkoba melibatkan orang dewasa.

“Harus dibedakan. Kita memperlakukan anak baik sebagai pelaku maupun korban seusai amanat UU Perlindungan Anak,” kata dia untuk menjaga trauma yang mungkin bakal dialami anak ketika berurusan dengan hukum. (azi)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close