Polda NTB Atensi Kasus Kekerasan Terhadap Anak

ilustrasi-kekerasan-anak
ilustrasi-kekerasan-anak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

tribratanewsntb.com Mataram – Hingga pertengahan 2016 ini, tercatat 71 kasus kekerasan seksual terhadap anak ditangani aparat kepolisian. Dari jumlah itu, 14 kasus diantaranya terjadi di Dompu, 11 kasus di Lombok Tengah, 9 kasus di Lombok Barat dan 5 kasus ditangani Polda NTB. Jenis kekerasan rerata berbentuk pemerkosaan, persetubuhan, dan pencabulan.

“Secara kualitas meningkat dilihat dari modus-modusnya,” Kasubdit IV PPA Ditreskrimum Polda NTB, AKBP I Putu Bagiartana, SH ditemui Kamis (21/7) di ruang kerjanya. Pada tahun 2015, tercatat 169 kasus kekerasan seksual terhadap anak. Korban anak perempuan mendominasi. Dengan TKP di dalam rumah yang mengindikasikan perbuatan bejat itu dilakukan oleh orang dekat.

Meski demikian, tak menutup kemungkinan orang lain di luar lingkungan anak yang menjadi pelaku. Contohnyadugaan pencabulan terhadap korban M (16), remaja SMA asal Lombok Tengah. Diduga dilakukan oleh bule asal Inggris, SRP (44) pemilik salah satu hotel di kawasan Senggigi. Dibantu seorang mucikari BR (51). Aksi bejat bule instruktur selam itu terbongkar akhir April silam, saat korban pada malam hari keluar dari salah satu hotel di Sengigi, Lobar.

Korban mengantongi sejumlah uang yang merupakan imbalan dari tersangka. Maksud tersangka memberikan uang, untuk membuat korban nyaman dan ketagihan. Perkenalan tersangka dengan korban difasilitasi BR, pemilik tempat hiburan biliar di bilangan Senggigi.Dilakukan berkali-kali sejak awal 2016. Bagiartana menyebutkan, dalam pengungkapan kasus kekerasan seksual terhadap anak, ada kecenderungan setelah terjadi sekian lama baru terendus. Beberapa diantaranya dengan TKP di dalam rumah. Hal itu membuktikan, kata dia, pelakunya kebanyakan memang orang dekat yang dikenal oleh korban.

“Ada keengganan untuk melapor. Apalagi kalau pelakunya orang sekitar ada hubungan kerabat ada hubungan keluarga. Sangat sulit karena menyangkut stigma korban,” terangnya. Berdasarkan pengalamannya mengungkap kasus, sambung dia, masyarakat yang menjadi saksi sebaiknya melapor. Sebab, kekerasan seksual bersifat aib bagi korban sehingga terkesan ditutup-tutupi.

“Kalau kita penegak hukum sedikit yang pengungkapan tangkap tangan. Contohnya yang kasus bule Inggris itu. Sisanya, laporan polisi oleh keluarga korban,” paparnya. “Harus dilaporkan. Sehingga kita bisa mengurai bagaimana kejadiannya siapa pelakunya, locus tempusnya, secara pro justitia.”

Sesuai dengan kewenangannya, Bagiartana menegaskan pihaknya memberikan perhatian lebih terhadap kasus dengan korban anak. Memberikan atensi lebih dengan melakukan berbagai pengungkapan kasus yang setidaknya dapat memantik korban lain untuk melapor.(azi)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close