Tiga Napi Terorisme Dikerangkeng Terpisah

Ilustrasi napi
Ilustrasi napi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

tribratanewsntb.com Mataram– Tiga narapidana kasus terorisme di Lapas Kelas IIA Mataram ditempatkan dalam sel terpisah. Komunikasi antarnapi itu dibatasi untuk mencegah persengkokolan kegiatan radikalisme di dalam penjara. Meskipun demikian, HAM para napi terorisme itu tetap dijunjung. Kepala Lapas Kelas IIA Mataram, Hannibal, Bc IP SH MH mengatakan, sel kecil yang semula digunakan untuk menampung sementara napi bermasalah dimanfaatkan sebagai sel napi terorisme.

“Kita pisahkan mereka. Masing-masing ada selnya,” ungkapnya di ruang kerjanya pekan kemarin.Alasan pemisahan tersebut dilakukan demi melindungi narapidana lain dari kerentanan napi terorisme yang berpotensi menyebarkan paham radikalisme di dalam penjara.

“Kita puya sel untuk orang yang bermasalah. Sel-sel kecil itu kita khususkan untuk mereka bertiga. Hal itu juga karena kapasitas Lapas yang overload,” jelasnya. Saat ini Lapas Mataram menampung tiga napi tindak pidana terorisme, yakni Pramuji asal Lamongan; Agus Salim alis Abdullah asal Sumbawa Barat; dan Salman alias Nasi Kuning asal Bima. Dua nama disebut terakhir mulai menempati sel sempit Lapas Mataram itu sejak 2 Mei 2016 silam.

Kedua terpidana yang terbukti masuk anggota kelompok radikal Mujahidin Indonesia Timur jaringan Bima itu mendapat vonis berbeda dari majelis hakim Pengadilan Negeri Tangerang. Agus Salim diputus 4 tahun penjara sedangkan Salman 3 tahun 6 bulan penjara. Berdasarkan pantauannya, kata Hannibal, para napi tersebut pada awalnya ketika masuk Lapas masih enggan berbicara.

“Meskipun sebelumnya tidak mau sama sekali, sekarang sudah mau bicara,” ungkapnya. Pengawasan terhadap ke tiga napi itu diperketat. Di samping perlakuan sama yang diberikan seperti kepada napi-napi lain. “Kamarnya memang dibedakan, tapi kita perlakukan sama. Hanya pengawasannya saja yang diperketat,” kata Hannibal.

Selain itu, sambung dia, untuk meminimalisasi para terpidana kasus terorisme agar tidak mengembangkan jaringan di dalam Lapas. Penjagaan dilakukan dengan menempatkan Polisi khusus Lapas (Polsuspas) atau sipir. Siang hari dijaga satu sipir sementara malam sel ditutup. Pihaknya mengantisipasi tindak tanduk para napi itu dengan memberi pengarahan kepada napi tindak pidana umum atau khusus lainnya. Agar tidak serta merta percaya atau mau dipengaruhi paham radikalisme. (azi)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close